PERSAINGAN BISNIS SESUAI SYARIAH

PERSAINGAN BISNIS SESUAI SYARIAH

 

Hidup semakin hari terasa semakin berat. Agar kita bisa survive, kita harus berusaha sekuat tenaga keluar dari semua masalah yang ada. Tidak terkecuali ketika kita membangun sebuah bisnis. Apalagi sekarang ini kita sedang menghadapi era perdagangan bebas, yang kemungkinan adanya persaingan-persaingan liar yang menghalalkan segala macam cara hanya untuk mencapai tujuannya.

Padahal dalam hal ini, Rasulullah sudah memberikan contoh bagaimana melakukan bisnis yang sesuai dengan koridor agama. Dan Islam sebagai sebuah aturan hidup yang khas, telah memberikan aturan-aturannya yang rinci untuk menghindarkan munculnya permasalahan akibat praktik persaingan yang tidak sehat itu. Minimal ada tiga unsur yang perlu dicermati dalam membahas persaingan bisnis menurut Islam yaitu pihak yang bersaing, cara persaingan dan produk atau jasa yang dipersaingkan.

Pihak-pihak yang bersaing

Bagi seorang muslim, bisnis yang dia lakukan adalah dalam rangka memperoleh dan mengembangkan kepemilikan harta. Harta yang kita peroleh merupakan karunia yang telah ditetapkan oleh Allah. Setaip jiwa sudah ditentukan rezekinya sendiri-sendiri. Jadi tidak mungkin akan tertukar dan tidak akan mungkin lari ke mana-mana. Jika memang bukan rezekinya, sekuat apapun kita mengusahakannya, kita tidak akan mendapatkannya. Begitupun sebaliknya jika memang sudah menjadi rezeki kita maka dia akan datang dengan sendirinya. Manusia hanya bertugas berikhtiar menjemput rezeki dengan sebaik-baiknya. Melakukan usaha tanpa harus melanggar norma yang ada. Dan satu lagi yang terpenting adalah jangan pernah takut akan kekurangan rezeki atau kehilangan rezeki hanya karena anggapan rezeki itu diambil oleh pihak lain.

“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan, hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS. Al-Mulk : 15)

Keyakinan bahwa rezeki semata-mata dari Allah SWT akan menjadi kekuatan dasar bagi seorang pebisnis muslim. Keyakinan ini menjadi landasan sikap tawakal yang kokoh dalam berbisnis. Selama berbisnis, ia akan senantiasa menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah semata. Bila bisnisnya mengalami kemenangan dalam persaingan, ia akan bersyukur. Sebaliknya jika sedang mengalami kegagalan dalam bersaing, ia akan bersabar. Intinya, segala keadaan ia hadapi dengan sikap positif tanpa meninggalkan hal-hal prinsip yang telah Allah perintahkan kepadanya.

 

Karenanya, seorang muslim akan memandang berbisnis sebagai pelaksanaan perintah Allah untuk bertebaran di muka bumi dalam mencari karunia-Nya. Karena itu, tidak terpikir olehnya untuk menghalalkan segala cara untuk sekedar “memenangkan” persaingan. Baginya, yang disebut dengan persaingan adalah berebut menjadi yang terbaik. Terbaik di hadapan Allah yang dicapai dengan sekuat tenaga untuk tetap setia menaati setiap aturan-Nya dalam berbisnis, sedangkan terbaik di hadapan manusia dengan menjalankan bisnis dengan produk yang bermutu, harga bersaing, dan dengan pelayanan total.

“Dan, Kami jadikan malam itu sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”. (QS. An-Naba’: 10-11).

 

Dalam hal kerja, Islam telah memerintahkan setiap muslim untuk memiliki etos kerja yang tinggi, sebagaimana telah memerintahkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan landasan ini, persaingan tidak lagi diartikan sebagai usaha mematikan pesaing lainnya, tetapi dilakukan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dari usaha bisnisnya.

Cara Bersaing

Berbisnis adalah merupakan bagian dari bermuamalah. Karenanya, bisnis juga tidak terlepas dari hukum-hukum yang mengatur masalah muamalah.Sehingga, persaingan bebas yang menghalalkan segala cara merupakan praktik yang harus dihilangkan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip muamalah islami.

Dalam berbisnis, setiap orang akan berhubungan dengan pihak-pihak lain seperti rekanan bisnis dan pesaing bisnis. Sebagai hubungan interpersonal, seorang pebisnis muslim tetap harus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada mita bisnisnya. Hanya saja, tidak mungkin bagi pebisnis muslim melakukan pelayanan yang terbaik disamakan dengan memberikan pelayanan yang dilarang syariah. Misalnya dengan memberikan suap untuk memuluskan negosiasi, atau memberikan umpan perempuan agar kontraknya jatuh pada dirinya, hal ini sangat dilarang oleh syariah.

Dalam berhubungan dengan rekanan bisnis, setiap pebisnis muslim haruslah memperhatikan hukum-hukum Islan yang berkaitan dengan akad-akad bisnis. Dalam berakad, haruslah sesuai dengan kenyataan tanpa dibumbui dengan manipulasi. Misalnya saja, memberikan sampel produk yang kualitasnya sangat baik, tetapi produk yang dikirim memiliki kualitas yang jauh lebih buruk dari sampelnya.

Rasulullah saw. Memberikan contoh bagaimana bersaing dengan baik. Ketika berdagang, Rasul tidak pernah melakukan usaha yang membuat usaha pesaingnya hancur. Walaupun tidak berarti gaya berdagang Rasul seadanya tanpa memperhatikan daya saingnya. Yang beliau lakukan adalah memberikan pelayanan sebaik-baiknya dan menyebutkan spesifikasi barang yang dijual dengan jujur termasuk jika ada kecacatan pada barangnya. Secara alami, hal-hal seperti ini ternyata dapat meningkatkan kualitas penjualan dan menarik para pembeli tanpa menghancurkan pedagang lainnya.

 

Sementara itu, pemerintah wajib melindungi dan menjamin terciptanya sistem yang kondusif dalam persaingan. Pemerintah tidak diperkenankan memberikan fasilitas khusus kepada seseorang atau sekelompok bisnis semisal tentang teknologi, informasi pasar, pasokan bahan baku, hak monopoli, atau penghapusan pajak.

Produk yang dipersaingkan

Beberapa keunggulan produk baik itu barang ataupun jasa yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing adalah sebagai berikut:

  1. Produk, baik barang atau jasa yang dipersaingkan seharusnya halal. Spesifikasinya harus sesuai yang diharapkan konsumen untuk menghindari penipuan. Selain itu kualitasnya haruslah terjamin dan bersaing.
  2. Harga, lebih baik jika harga yang ditawarkan kompetitif. Dan tidak diperkenankan membanting harga dengan tujuan menjatuhkan pesaing.
  3. Tempat, sebaiknya tempat yang dipergunakan untuk usaha baik, sehat, bersih, dan nyaman. Dan lebih baik menghindari melengkapi tempat usaha dengan hal-hal yang dilarang misalnya gambar porno, minuman keras hanya untuk menarik pembeli.
  4. Pelayanan harus diberikan dengan ramah, tetapi tidak boleh dengan cara yang mendekati maksiat. Misalnya, dengan menempatkan perempuan cantik berpakaian seksi

               Layanan purna jual merupakan servis yang akan melanggengkan pelanggan. Akan tetapi, ini diberikan dengan cuma-cuma atau sesuai dengan akad.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: http://www.bprsyariah.com/index.php?option=com_content&view=article&catid=37:artikel&id=83:persaingan-bisnis-sesuai-syariah&Itemid=65

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s